(KA)LEMBO ADE
oleh Caron Toshiko
Dalam konteks fotografi, ada kalanya gambar perlu berpadu dengan teks. Karena satu foto dapat memiliki banyak makna, dan teks dibutuhkan seperti jangkar untuk mengunci makna tertentu¹. Sebagai petunjuk akan konstruk pengalaman seseorang. Proses mengunci makna ini dapat menjadi relevan dalam praktik lokakarya fotografi terapeutik berbasis kelompok, atau yang dikenal dengan photovoice. Karena dalam melihat foto yang sama, setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda, tergantung memori, latar belakang pengalaman, serta konteks sosial budaya hidupnya.
Lokakarya yang saya dampingi bersama Ernesto Aldo dan Rodja Allifia Maha Dhiva sebagai fasilitator ini diselenggarakan oleh Wahid Foundation, melibatkan para inisiator perdamaian yang kemudian saya sebut sebagai teman-teman Bima. Dalam proses lokakarya tersebut, makna pengalaman hidup diproduksi dari foto-foto yang teman-teman Bima kumpulkan. Setelah mengikuti lokakarya intensif di Ruma Dining, Kota Bima, pada 18 dan 19 Desember 2025, mereka melanjutkan proses memotret, mengumpulkan arsip visual, dan menyusun narasi secara mandiri. Selanjutnya, mereka berdiskusi secara individual dengan saya dalam beberapa sesi daring. Isu yang mereka angkat beragam, mencakup perdamaian, kestabilan ekonomi, keadilan gender, dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui pendekatan photovoice, teman-teman Bima mengartikulasikan pengalaman hidup yang selama ini, baik secara sadar maupun tidak, telah membatasi dan membungkam mereka dalam menghadapi ketidakadilan. Narasi visual yang mereka bangun menjadi bentuk perlawanan terhadap representasi dominan yang bersifat sistemik. Dalam hal ini, photovoice menjadi ruang untuk suara mereka didengar dan diakui, sehingga membuka kemungkinan perubahan yang lebih baik dalam hidup mereka.
Dalam beberapa lokakarya fotografi terapeutik/photovoice yang saya lakukan, termasuk bersama Wahid Foundation, saya melihat bagaimana photovoice dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan (nonviolent resistance). Pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk memahami relasi kuasa, mendukung rekonsiliasi, membangun dialog, serta menumbuhkan harapan bersama². Elemen-elemen yang diperlukan sebagai fondasi dalam membangun perdamaian yang positif. Melalui lokakarya bersama komunitas akar rumput, saya semakin meyakini pentingnya revolusi diri, atau proses mengembangkan kesadaran kritis (conscientização) sebagaimana yang dimaksud oleh Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas³, sebelum melakukan advokasi kepada para pemangku kebijakan dalam upaya membangun perdamaian yang positif tersebut. Hal ini sejalan dengan gagasan Wang dan Burris⁴, melalui photovoice sebagai alat untuk membangun kesadaran sekaligus memengaruhi kebijakan. Dalam praktiknya, photovoice turut mendorong para praktisi untuk memahami bahwa pengalaman hidup mereka terbentuk dalam struktur sosial yang lebih luas⁵.
Dalam sesi lokakarya photovoice, teman-teman Bima mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi kehidupan mereka, mulai dari aspek budaya, sosial, ekonomi, hingga narasi yang berkembang di sekitar mereka. Pendekatan ini saya sebut sebagai “Mengupas Bawang Diri,” sebuah upaya untuk melihat lapisan-lapisan yang membentuk cara berpikir dan perilaku seseorang. Pendekatan ini saya adaptasi dari Gibson’s Model – Therapeutic Photography⁶ yang beririsan dengan sistem ekologi Bronfenbrenner. Melalui praktik fotografi terapeutik, individu dapat mengeksternalisasi ingatan dan jejak emosional yang terasa sulit diungkapkan secara verbal.
Sebagai alat advokasi, photovoice juga berfungsi sebagai bentuk produksi pengetahuan dari orang-orang yang mengalami langsung persoalan tersebut⁷. Hal ini saya pikir juga sejalan dengan konsep hadap masalah (problem-posing education)⁸, di mana setiap individu berdialog untuk memahami identitasnya, posisinya di dunia, mengembangkan kesadaran kritis, dan melihat realitas sebagai sesuatu yang dapat diubah. Dalam konteks ini, teman-teman Bima mencoba merekam pengalaman ketidakadilan serta merefleksikan pilihan-pilihan hidup yang dapat membawa mereka pada kehidupan yang lebih sejahtera. Proses memahami diri sendiri inilah yang dapat membawa seseorang membangun identitas mereka⁹.
Buku foto (Ka)lembo Ade menghadirkan karya dari 14 inisiator perdamaian di Bima yang mengajak pembaca untuk mendengarkan pengalaman hidup mereka melalui foto-foto yang mereka maknai. Mulai dari kisah migrasi demi memenuhi kebutuhan hidup akibat terbatasnya lapangan pekerjaan dan kesempatan, pengalaman ibu tunggal sebagai pekerja migran, kondisi anak-anak dari orang tua yang bekerja menjadi petani migran, kekerasan terhadap perempuan yang diwujudkan melalui tubuh perempuan sebagai alat politik, stigma terhadap perempuan yang bercerai, hingga konstruksi “istri ideal.”
Selain itu, terdapat pula kisah tentang anak muda yang berupaya keluar dari kelompok ekstremis, tradisi Mbolo Kampo yang mengikat relasi sosial melalui sistem sumbangan yang perlu dikembalikan di kemudian hari, kerusakan lingkungan akibat sampah yang tidak terkelola dengan baik dan deforestasi, serta upaya mandiri warga dalam melindungi rumah mereka saat menghadapi banjir yang kerap mengetuk pintu. Tidak luput, potret para aktivis desa yang memperjuangkan lingkungan yang lebih baik dan kebutuhan akan ruang aman bagi anak muda untuk berekspresi.
Beberapa hasil karya teman-teman Bima dalam buku foto (Ka)lembo Ade
Di tengah proses lokakarya, ada satu ungkapan yang terus muncul, kalembo ade. Ungkapan lokal yang belum pernah saya dengar sebelumnya sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di Jakarta. Yang membuat saya selalu bertanya-tanya dan mencoba menelusuri berbagai referensi di dunia maya, dan saya cukup kesulitan menemukannya. Pencarian ini pada akhirnya menghantarkan saya berdiskusi dengan Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd., Guru Besar Universitas Islam Negeri Mataram.
Kalembo ade, ungkapan magis masyarakat Bima yang mampu mengaktivasi dunia batin mereka. Secara harfiah, lembo berarti luas dan ade berarti hati. Sehingga lembo ade dapat dimaknai sebagai kelapangan hati. Namun ungkapan ini memiliki makna yang sangat kaya, bergantung pada konteks saat ungkapan tersebut dilayangkan. Ia bisa juga berarti terima kasih, permohonan maaf, ajakan untuk berbesar hati, hingga bentuk penerimaan saat menghadapi situasi tertentu. Kalembo ade juga bagian dari praktik keramahan dan cara membangun kedekatan emosional antarindividu, khususnya dalam masyarakat Bima.
Dari penjelasan Prof. Dr. Wahid serta teman-teman Bima, saya merasa ungkapan kalembo ade mengandung kompleksitas. Ia tidak sederhana. Ia dapat menjadi ruang refleksi sekaligus arena negosiasi makna. Dalam situasi konflik, ungkapan ini bisa membantu seseorang mengendalikan diri dan melihat situasi dengan lebih jernih. Akan tetapi di sisi lain, ia juga berpotensi menjadi alat kontrol sosial, bahkan represi, tergantung siapa yang mengucapkannya, ditujukan kepada siapa, apa tujuannya, dan dalam konteks seperti apa. Ketika digunakan oleh pihak yang berkuasa atau dominan, kalembo ade dapat menjadi strategi persuasif untuk meredam kritik atau perlawanan sehingga berisiko membungkam pihak yang mengalami ketidakadilan. Sebaliknya, ketika diucapkan dalam relasi yang setara, ia dapat menjadi ekspresi empati. Sebuah kehadiran yang menenangkan, seolah berkata, “Aku hadir bersamamu.”
Di sinilah bahasa menunjukkan sifatnya yang ambivalen, ia dapat membebaskan, namun juga bisa merepresi. Kalembo ade, ungkapan yang menjadi judul buku ini, rangkuman atas kisah teman-teman Bima. Ungkapan yang memuat kesakralan nan penuh makna, berfungsi sebagai jembatan sekaligus alat kontrol, tergantung pada relasi yang melingkupinya. Sehingga kita sebagai pembaca bisa turut hadir menyelami pengalaman teman-teman Bima, sekaligus berpikir kritis tentang sejauh mana ungkapan kalembo ade dapat dinyatakan.
Melalui proses lokakarya dan cerita-cerita yang dihasilkan oleh teman-teman Bima, saya semakin memahami bahwa bahasa, baik yang diproduksi secara verbal maupun visual, tidak akan pernah benar-benar netral. Ia merupakan konstruksi dari realitas batin, merepresentasikan hasrat, kepentingan, dan pengalaman yang mencerminkan konteks sosial politik tertentu. Bahasa menjadi repositori identitas diri dan nilai-nilai sosial. Selain sifatnya yang reflektif, bahasa memiliki kemampuan untuk menenangkan, menjadi medium yang membantu meredam konflik batin. Dan pada akhirnya, buku (Ka)lembo Ade yang hadir di tanganmu diharapkan dapat menumbuhkan rasa kemanusiaan sebagai bentuk “Aku hadir bersamamu.”
London, 25 Maret 2026
Caron Toshiko
Fasilitator Lokakarya Fotografi Terapeutik/Photovoice
Referensi:
- White, E. (2012). How to read Barthes’ Image-Music-Text. Pluto Press, p.29.
- Zelizer, C. (2003). The Role of Artistic Processes in Peace-Building in Bosnia-Herzegovina. Peace and Conflict Studies. https://doi.org/10.46743/1082-7307/2003.1039
- Freire, P. (2022). Pendidikan Kaum Tertindas. Penerbit Narasi. (Original work published 1970, The Continuum International Publishing Group Ltd), p. 1.
- Wang, C., & Burris, M. A. (1994). Empowerment through Photo Novella: Portraits of Participation. Health Education Quarterly, 21(2), 171–186. https://doi.org/10.1177/109019819402100204
- Liebenberg, L. (2022). Photovoice and Being Intentional About Empowerment. Health Promotion Practice, 23(2), 267–273. https://doi.org/10.1177/15248399211062902, p. 269.
- Gibson, N. (2018). Therapeutic Photography: Enhancing Self-Esteem, Self-Efficacy and Resilience. Jessica Kingsley Publishers.
- Liebenberg, L. (2022). Photovoice and Being Intentional About Empowerment. Health Promotion Practice, 23(2), 267–273. https://doi.org/10.1177/15248399211062902, p. 270.
- Freire, P. (2022). Pendidikan Kaum Tertindas. Penerbit Narasi. (Original work published 1970, The Continuum International Publishing Group Ltd), p. 69.
- Spivak, G. C. (2012). Outside in the Teaching Machine. Taylor and Francis.